2.13.2005

 

arslonga / edisi 01 / tahun I / Februari 2005

:: S e n t r u m
Gerakan Bangkit Aceh: Dari Ubat Hate ke Zikir 00: 00
Ubat Hate Banda Aceh: Kebangkitan Seniman Aceh

Kegiatan Sabtu malam (22/01/05) di mana para seniman Aceh yang terdiri dari penyair dan pembaca hikayat melakukan takbir dan pembacaan puisi dengan latar belakang kapal terdampar di depan Hotel Medan, Penayong Banda Aceh sebagai titik awal kebangkitan Aceh. Kawasan yang terletak di pusat perdagangan Banda Aceh ini termasuk kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat terjangan tsunami beberapa waktu lalu. Penyair yang terlibat dalam acara itu antara lain AA. Manggeng Putra, Din Saja, Helmi Hass, Hasbi Burman, Fikar W. Eda, dan seorang penyair perempuan D. Keumalawati. Sedangkan selaku pembaca hikayat M. Yusuf Bombang dan Dekna. Acara takbir dan zikir seniman Aceh ini berlangsung sangat bersahaja dan hanya diterangi petromak dan lampu jalanan yang redup. Acara serupa juga dilakukan saat malam takbiran yang disemarakkan oleh para relawan yang sedang berdinas di Banda Aceh. Bangkitnya seniman Aceh untuk mulai berkesenian merupakan bentuk implementasi dari gerakan kultural pembangunan kembali peradaban Aceh dan daerah lain yang terkena musibah tsunami. Gerakan ini dicetuskan oleh Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA)Jakarta dan kemudian dilanjutkan oleh para seniman Aceh yang tergabung dalam Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) Banda Aceh. Di mana pada tanggal 17 Januari 2005 lalu, Fikar W. Eda selaku Sekjen Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) Jakarta, berangkat ke Aceh dengan fasilitas Koran Serambi Indonesia, selain menjalankan tugas dari kantornya ia juga memikul tugas mulia dari KBA Jakarta guna mensosialisasikan sekaligus memulai gerakan recovery psikologis (kesenian & kebudayaan) di Aceh.

Kedatangan Fikar di Aceh berhasil menggalang 30-an seniman antara lain penyanyi Rafli, penari Ami, serta para pekerja teater Kostaman, tukang hikayat Yusuf Gombang, dan aktivis film dokumenter Fouzan S, dll, untuk mulai berkesenian. Pada malam harinya (17/01/05), di Taman Budaya yang terletak di Jl. Teuku Umar No 9, Banda Aceh, digelar acara Dzikir, Tsamadiah, dan Tahlil yang melibatkan sejumlah seniman dan masyarakat yang berlangsung hingga 23 Januari 2005. Ritual relijius ini juga diikuti oleh seniman yang datang dari Jakarta, seperti Uly Sigar Rusyadi (menyanyi dan menyampaikan renungan). Pada hari Selasa (18/01/05) beberapa relawan juga turut bergabung dalam gerakan ini, seperti Anto Baret, dan relawan dari Garuda Wisma Nusantara. Pada hari Kamis (20/01/05), bertempat di Taman Budaya Banda Aceh berlangsung acara takbir Idul Adha dan keesokannya dilangsungkan pemotongan hewan kurban berupa empat ekor kambing yang merupakan sumbangan dari Sitii Zainon Ismail (Malaysia). Berkat keterlibatan para relawan ini, maka terbentuk koordinasi antar relawan. Dengan adanya koordinasi antar relawan ini semua bisa bergerak bahu membahu untuk saling mengkoordinasikan berbagai kebutuhan. Para seniman yang berkumpul di Taman Budaya ini, kemudian memiliki kesadaran berorganisasi, sehingga terbentuk organisasi yang mereka namakan Koordinatoriat Bangkit Aceh dan untuk tim relawan dari barisan kesenian mereka namakan Relawan Ubat Ate (relawan pelipur hati). Organisasi yang dibentuk ini terdiri dari Ketua, Sekretaris (kesekretariatan), Bendahara, Kabid Pertunjukan, Kabid Usaha, Kabid Humas, Publikasi dan Dokumentasi, Kabid Inventarisasi Asset Budaya, dan Kabid Perlengkapan. Para seniman ini akan memulai kerjanya pada tanggal 25 Januari 2005, yakni melakukan hiburan batin di 16 titik pengungsian terbesar di Banda Aceh dan Aceh Besar. Acara ini, menurut Fikar W. Eda yang dihubungi melalui telepon, selain merupakan serangkaian kegiatan seperti yang digelar Koordinatoriat Bangkit Aceh di Jakarta, menjadi sebuah upaya nyata untuk melakukan recovery mental (kesenian & kebudayaan) diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat hidup masyarakat, minimalnya senimannya itu sendiri.

Lebih lanjut Fikar menjelaskan bahwa untuk akomodasi dan penyewaan barang-barang (peralatan) di sana sangat mahal. Sewa rumah untuk tiga bulan, misalnya, bisa mencapai Rp. 100.000.000, sewa mobil sehari antara Rp. 400.000Rp. 1.000.000. Hal ini disebabkan, relawan asing berani membayar berapapun untuk keperluan akomodasi maupun keperluan lainnya berkaitan dengan kepentingan masing-masing. Ironis sekali realitas yang ada, dan Abdi Adat (relawan kebudayaan) yang diharapkan menjadi garda depan dalam menyelamatkan peradaban Aceh tidak memiliki dana yang cukup sehingga mereka harus mengajukan proposal, dan proposal ini sudah diterima oleh Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA)Jakarta.

Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) Jakarta Digagas oleh sejumlah wartawan kebudayaan, seniman, dan budayawan KBA Jakarta bertujuan untuk melakukan recovery di sektor psikologis (kesenian & kebudayaan) Aceh, Sumatra Utara dan sekitarnya dengan cara menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk penggalangan dana serta menjalin koordinasi dengan lembaga kesenian, komunitas seni, dan perorangan. Hingga tanggal 23 Januari 2005 lalu tercatat sekitar 16 lembaga atau komunitas yang telah berkoordinasi dengan KBA Jakarta, seperti Konsorsium Wartawan Kebudayaan (KWK) Nusantara, Bengkel Teater Rendra, SAJAK (Seniman Aceh Jabotabek), Sanggar Matahari, Pasar Seni Ancol, Forum Wartawan Hiburan, Kafe Taman Semanggi, Mata-Mata Communication, Asosiasi Pematung Indonesia, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Himpunan Pelukis Jakarta, Jakarta Contemporary Painters Association, Komunitas Kebun Nanas, dan Federasi Tetater Indonesia (FTI). Selain itu, dari beberapa daerah seperti Lampung, Bandung, Serang, Tangerang, Makassar, Medan, Bali, dan lain-lain sudah menggalang kebersamaan dan akan menyalurkan dana dari sektor kesenian untuk dikembalikan pada kesenian di Aceh dan Nias. Dwi Pekan Kepekaan Seniman: Bangkit Aceh Gerakan kepekaan dan kepedulian seniman di Jakarta juga dilangsungkan di Galeri Nasional Indonesia mulai tanggal 08 Januari dan berakhir pada tanggal 23 Januari 2005 lalu.

Gerakan yang mengusung tema “Dwi Pekan Kepekaan Seniman: Bangkit Aceh” tersebut selain menggelar pameran dan penjualan karya seni rupa juga menghadirkan serangkaian acara kreativitas seni (seni pertunjukan teater, musik, dan tari), renungan reflektif, pembacaan puisi dan sajak yang berlangsung setiap hari. Acara yang berlangsung selama dua pekan tersebut telah melibatkan lebih dari 850 seniman dan budayawan baik secara perorangan maupun kelompok. Sebagai contoh untuk pameran dan penjualan karya seni rupa melibatkan sekitar 100 seniman yang berasal dari berbagai kelompok seperti Ikatan Pematung Indonesia, Himpunan Pelukis Jakarta, Jakarta Contemporary Painters Association, Pasar Seni Ancol, dan perorangan). Dan sisanya sekitar 750 seniman dan budayawan berpartisipasi dalam panggung kepekaan dan kreatifitas seniman. Para tokoh yang terlibat dalam panggung kepekaan & kreatifitas seniman tersebut antara lain: WS. Rendra, Eep Saefullah Fatah, Franky Sahilatua, Sawung Jabo, Ken Zuraida, Yockie S. Prayogo, Oppie Andaresta, Otig Pakis, Isaias Sadewa, Haris Nasution, Toto Tewel, Chairul Umam, Sandrina Malakiano, Inung, Sujiwo Tejo, Eksotika Karmawibangga, Sanggar Matahari, Seniman Aceh Jabotabek, Kelompok Puri Gita Nusantara, Federasi Teater Indonesia, Komunitas Teater Jakarta Timur, Teater Kampus se-Jabotabek, dan lain sebagainya. Selain pameran dan panggung kreativitas seni, dalam acara ini juga diselenggarakan pertemuan antar komunitas/lembaga yang terkoordinasi dalam Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) Jakarta pada tanggal 15 Januari 2005 lalu. Hadir dalam pertemuan ini Fikar W. Eda (SAJAK/Seniman Aceh Jabotabek), Exan Zen (Federasi Teater Indonesia), Gito (Komunitas Kebun Nanas), T. Anwar (Kafe Taman Semanggi), Yockie S Prayogo (Gerakan Kepatutan), Endi Aras (Mata-mata Communication), Benny Benke (Konsorsium Wartawan Kebduayaan Nusantara), Irma Komala Syahni (Sanggar Matahari), Ahmad Mauladi Morenk (SAJAK), Puguh Tjalijono (Jakarta Contemporary Painters Association), Ipoel (Ketua SAJAK), dan Surya Yuga (Asisten Deputi urusan Kesenian, Deputi bidang Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata). Hadir perorangan antara lain Teguh Esha dan Sentot J (Komite Kemanusiaan Buruh Indonesia).

Selama 14 malam dalam Dwi Pekan Kepekaan Seniman: Bangkit Aceh tersebut, selalu dimeriahkan oleh kurang lebih 17 pemateri baik perorangan maupun kelompok yang dihadiri lebih dari 100 pengunjung setiap harinya. Sedangkan dana yang berhasil dihimpun dalam gerakan tersebut mencapai sebesar Rp 60.261.600,- yang berasal dari hasil penjualan karya seni rupa sebanyak 11 karya, dan seluruhnya akan disalurkan ke Aceh untuk kebutuhan recovery sektor psikologis. Zikir 00:00 sebagai Titik Tolak Bangkit Aceh Pada malam pergantian tahun baru lalu (31/12/04), bertempat di Kafe Taman Semanggi Jakarta, KBA mendeklarasikan komitmennya untuk melakukan recovery psikologis di Aceh, Sumatera Utara dan sekitarnya yang diiringi dengan penyelenggaraan Zikir 00:00. Acara yang mengusung tema besar “Bangkit Aceh” ini menghadirkan para budayawan, penyair, dan pekerja seni yang peduli terhadap korban bencana di Aceh, seperti Radhar Panca Dahana, Sutardji Calzoum Bachri, Rieke Diah Pitaloka, Ahmadun Yossi Erfanda, Hudan Hidayat, Doddi AF, Sihar Ramses Simatupang, Mbah Surip “I Love You Full”, serta ribuan masyarakat yang memenuhi kawasan itu. Acara yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan diakhiri dengan Zikir ini mendapat sambutan yang sangat baik dari ribuan hadirin yang berkumpul, lebih-lebih ketika Rieke Diah Pitaloka mendeklamasikan sajak terbarunya yang didedikasikan untuk para korban gempa dan badai tsunami. Presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri lewat sajaknya “Belum Ada Judul” mampu menyihir audience terdiam lewat kedalaman syairnya. Radar Panca Dahana dalam orasinya menegaskan bahwa, sejatinya bencana peradaban yang melanda kita tak kalah besarnya dengan bencana Aceh yang telah terjadi di depan kita. Lebih jauh Radar menjelaskan bahwa badai korupsi, ketidakjujuran, dan kemunafikan lambat laun akan menghancurkan peradaban negeri ini. “Inilah semangat yang menyerukan kebangkitan bagi bumi Serambi Mekah dan bumi Indonesia.” Seru Rieke Diah Pitaloka. Dalam acara Zikir 00:00 itu terkumpul dana sebesar Rp 5. 061.600,- dan 100% akan digunakan untuk recovery psikologis di Aceh, Sumatera Utara dan sekitarnya. (TAR)


:: A n o t a s i

Menghimpun Batu, Menebar Jala

Kami bukan gerombolan
Kami adalah barisan kecil
Yang menghimpun batu-batu
Menebar jala

WARUNG Alek yang berada di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, menjadi saksi kecil bahwa ada segelintir orang yang bertekad melakukan gerakan kultural untuk ikut menyelamatkan peradaban Aceh dan sebagian Sumatra Utara dari kehancuran akibat bencana tsunami yang maha dashyat. Segelintir orang itu tiada lain adalah tiga wartawan kebudayaan yang masygul ketika hari sampai pada magrib. Sebelumnya, mereka hadir ke Kantor Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) karena menerima undangan akan ada pembicaraan untuk menyikapi bencana nasional itu. Tetapi setelah hadir di sana, ternyata pembicaraan tidak berkaitan dengan kesenian, padahal DKJ adalah jelas-jelas kantor seniman. Hari itu, Kamis (30/1/2004), hari ke-5 bencana nasional menimpa saudara-saudara kita di Barat Indonesia.

Namun, belum terdengar ada gerakan kultural yang terkoordinasi dalam sebuah barisan kuat dengan jaringan yang terbentang rapi. Budayawan dan senimanlah yang memang harus bergerak di wilayah ini. Tetapi, hingga hari kelima, para seniman belum memperlihatkan aksi nyata dalam merapatkan barisan dan membentangkan jaringan. Bahkan, ketiga wartawan itu menyimpan kemasygulan sepulang dari DKJ, sebab dikira akan ada pembicaraan mengenai gerakan kesenian. Ternyata, yang terjadi adalah…… Kenapa seniman susah bersatu? Tidak bisa dipungkiri, seniman kita masih gemar gontok-gontokan dan tidak sedikit seniman yang menafikkan makna dan manfaat berorganisasi. Tetapi bagi mereka yang selalu merenungkan setiap perkara, selalu ada hikmah di balik setiap perkara. Dari kemasygulan melihat kondisi seniman Indonesia, lahirlah kesadaran bahwa pekerja seni-budaya yang bisa berdiri netral dan memasuki semua kubu yang gontok-gontokkan adalah wartawan kebudayaan. Barangkali, dengan niat yang ikhlas untuk membantu para seniman Aceh dan sebagian Sumatra Utara yang tersisa supaya bergairah kembali untuk berkesenian. Wartawanlah yang bisa mengajak para seniman bersatu. Bagaimana caranya? Pokoknya bertindak saja dulu, nanti akan ada reaksi untuk membuat rumusan.

Ketiga wartawan itu tiada lain adalah Doddi AF (Media Indonesia), Benny Bengke (Suara Merdeka), dan Bambang Sulistiyo (Gatra). Mereka sepakat untuk bertindak. Sebelum bubar, datanglah Fikar W Eda (yang dikenal sebagai penyair dan wartawan Serambi Indonesia) dari arah Institut Kesenian Jakarta. Doddi AF mencegat Fikar, dan terjadi percakapan singkat karena masing-masing disibukkan oleh tugas pribadi sebagai wartawan. Gayung bersambut, mereka sepakat untuk bertemu lagi esok harinya di warung Alek. Tetapi Jumat (30/12/2004) pertemuan sore hari yang dijanjikan tidak jadi di TIM. Fikar mengatakan, di Kafe Taman Semanggi (KTS) ada komunitas SAJAK (Seniman Aceh Jakarta) yang bisa diajak bekerja sama. Maka pertemuan pun berlangsung di KTS selepas isya. Pada pertemuan itu, jumlah orang yang hadir dalam rapat bertambah banyak. Pertemuan malam itu menyepakati dua hal, bahwa harus dibentuk barisan seniman yang mewakili lembaga/jaringan dan bukan mewakili perorangan. Tetapi barisan tentu harus memiliki nama. Muncullah kosakata yang tidak lazim, yaitu Koordinatoriat Bangkit Aceh, yang maknanya kurang lebih semacam gabungan organisasi kesenian yang akan melakukan gerakan kultural untuk menyalakan kembali gairah berkesenian seniman Aceh dan Nias yang tersisa. Kesepekatan kedua, Sabtu malam bertepatan dengan pergantian tahun 2004-2005, harus digelar gerakan pertama. Disepakati di KTS akan digelar Zikir 00.00 yang tujuannya adalah mengirimkan doa bersama ke angkasa, mimbar keprihatinan dalam bentuk kesenian, kampanye kebudayaan untuk membentangkan jaringan ke delapan penjuru angin, sekaligus menggalang dana. Dengan persiapan semalam, terjadilah Zikir 00.00 itu. Seniman yang terlibat mengisi panggung saat itu antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Radhar Panca Dahana, Sanggar Matahari, Doddi Achmad Fawdzy, Hudan Hidayat, Rieke Dyah Pitaloka, Five V Rahmawati, Sihar Ramses Simatupang, Ahmadun Yossi Herfanda, Fajar Sidik, dan masih banyak lagi. Malam itu tergalang dana Rp 5.061.600, dan organisasi kesenian yang ikut bergabung dalam Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) adalah Konsorsium Wartawan Kebudayaan (KWK) Nusantara, SAJAK (Seniman Aceh Jabotabek), Sanggar Matahari, Kafe Taman Semangi, dan menyusul bergabung Bengkel Teater Rendra.

Acara serupa kemudian dialihkan ke Galeri Nasional, Jl Medan Merdeka Timur No 14, Jakarta Pusat dengan menggelar acara Dwi Pekan Kepekaan Seniman : Bangkit Aceh pada 8-23 Januari (istirahat dua hari/malam untuk menghormati Idul Adha). Dari empat organisasi yang tergabung dalam KBA, bertambah menjadi tujuh, bertambah, bertambah, dan terus bertambah, hingga Sabtu siang (22/01) akhirnya anggota KBA terdiri dari: Konsorsium Wartawan Kebudayaan (KWK) Nusantara, Bengkel Teater Rendra, SAJAK (Seniman Aceh Jabotabek), Sanggar Matahari, Pasar Seni Ancol, Forum Wartawan Hiburan, Kafe Taman Semanggi, Mata-Mata Communication, Asosiasi Pematung Indonesia, Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Federasi Teater Indonesia, Komunitas Kebun Nanas, Himpunan Pelukis Jakarta, Jakarta Contemporary Painters Association, Puri Gita Nusantara, Gerakan Kepatutan, Lingkaran Pemberdayaan Persaudaraan Warga Negara, Yayasan Persada Maritim Indonesia, dan kami yakin masih akan bertambah lagi. Sementara Asisten Deputi urusan Kesenian, Deputi bidang Kesenian, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Galeri Nasional Indonesia ikut membantu gerakan ini dengan menempatkan diri sebagai fasilitator. Sekali lagi, Koordinatoriat Bangkit Aceh bukan gerombolan seniman, tetapi barisan kecil yang mencoba menghimpun kekuatan-kekuatan dengan membentangkan jaringan ke delapan penjuru angin. Dari Jakarta, kini mulai terbentang jalur koordinasi dan informasi ke gabungan kumunitas kesenian Bandung Peduli Kemanusiaan, gabungan komunitas Lampung Ikhlas, gabungan komunitas kesenian Waroeng Boedaja Medan, gabungan komunitas Palu Bantu Aceh, gabungan komunitas Halmahera Peduli, dan secara perorangan kampanye kebudayaan ini telah terdengar oleh sejumlah seniman di Tanah Air.

Sesegera mungkin, setiap seniman di berbagai kota akan dihubungi untuk saling berkomunikasi dan melebarkan jaringan. Perkembangan yang menarik ialah bahwa Sekjen KBA Jakarta yang berangkat ke Banda Aceh pada 17 Januari atas biaya Serambi Indonesia, berhasil menghimpun tujuh seniman Aceh. Mereka di-briefing sebentar, lalu malam harinya berkumpul sekitar 30-an seniman, dan malam itu juga aktivitas kesenian di Taman Budaya Banda Aceh oleh seniman Aceh dimulai. Aktivitas ini akan berlangsung hingga 23 Januari ini, dan mulai 24 Januari besok, para seniman akan memasuki 16 titik barak pengungsian terbesar di Banda Aceh dan Aceh Besar untuk menghibur para pengungsi sekaligus mengumpulkan para seniman Aceh yang masih tertidur batinnya di barak pengungsian. Kumpulan seniman Aceh itu kemudian melahirkan kesadaran untuk berorganisasi, sehingga terbentuklah komunitas kesenian darurat yang menamakan diri Koordinatoriat Bangkit Aceh – Banda Aceh (baca: Surat Kepercayaan Seniman, halaman 1). Tak lama lagi, komunitas seperti KBA Banda Aceh akan terbentuk di Lhokseumawe, Pidie, Sigli,dan kota-kota lain sebab kami akan segera mengirimkan seorang tim advance untuk menancapkan jaringan. Selain berkesenian, para seniman itu pun kemudian memiliki kesadaran untuk survival. Mereka berpikir untuk memulai sebuah usaha halal yang bisa mengganjal perut supaya berkesenian jalan terus.

Ide pertama mereka adalah menyablon kaos dengan tulisan Relawan Ubat Hate (obat hati) yang akan dijualkan kepada relawan asing yang memang memiliki uang banyak. Mungkin ada yang menilai gerakan yang dirintis KBA – Jakarta ini bersifat sporadis dan organisasinya sangat longgar. Memang nampak seperti sporadis, tapi sebenarnya gerakan kultural yang dibentangkan KBA terjalin secara rapi. Walaupun organisasinya longgar dan tanpa AD/ART, tetapi kami akan mencoba teguh dalam prinsip, luwes dalam pendekatan, sambil selalu waspada dan membaca perkembangan. Tentu ada banyak ide, tetapi ide saja tidak cukup, apalagi ide yang mengawang. Ide kami adalah visi dan misi dari gerakan kultural KBA: yaitu menyelamatkan peradaban Aceh dan Nias dari kehancuran dengan cara merapatkan barisan seniman dan membentangkan barisan untuk menghimpun kekuatan. (JIB)


:: O p i n i

Aceh Baru, Serambi Hati Kita
Radhar Panca Dahana

APA yang paling mencolok dari hasil akhir bencana gempa dan tsunami di Aceh dan sekitarnya, bukan hanya kesedihan, puing, epidemi, atau simpati global yang luar biasa. Tapi juga habis totalnya kebudayaan material yang selama ini dibangun oleh rakyat Aceh. Tidak melulu bangunan, jalan-jalan raya, pasar, karya-karya seni, atau kitab-kitab pengetahuan yang berharga. Namun juga pertahanan kultural rakyat dan adab Aceh yang selama ini dihargai begitu kuat dan tangguh. Sepanjang ratusan tahun, sepanjang sejarah rakyat di bumi nusantara ini. Dengan adanya great disruption ini, Aceh seperti bangunan kultural yang roboh dinding-dindingnya, kamar-kamar, pintu, dan atap kebanggaan budaya yang selama ini dimilikinya.

Mereka dihadapkan pada kondisi yang dapat diterima ataupun tidak, di mana mereka harus menerima "siapa saja" bertandang ke rumahnya. Memasuki beranda, ruang keluarga, bahkan dapur, kamar mandi hingga kamar tidur kebudayaan mereka. Bahkan, kadang tanpa permisi sama sekali. Keadaan darurat telah mendesak mereka ke tepian etika, sopan santun atau adab pergaulan yang pantas. Semua seolah tak terhindarkan. Dan semua yang "tak terhindar" membawa implikasi adab dan budaya yang sungguh tidak kecil. Bukan hanya kehormatan, harga diri, atau kebanggaan sebagai sebuah kekuatan budaya yang hilang atau tergerus habis, tapi juga modal material di mana harapan, mimpi, atau idealisasi masa depan terhanyut bersama air bah tsunami. Dan betapa menggiriskan jika pihak-pihak yang berwenang dan berkepentingan --dalam dan luar negeri-- mengabaikan hal ini. Lalu berpikir, persoalan itu akan usai dengan sendirinya ketika infrastruktur sosial, politik, dan ekonomi berhasil dibangun kembali perlahan-lahan. Apa yang tidak atau kurang diperhitungkan dari usaha recovery atau pemulihan Aceh itu adalah, lenyap tuntasnya produk kebudayaan material di atas meninggalkan kekosongan yang sebagian takkan tergantikan.

Betapa pun produk kebudayaan immaterial (non-tekstual) masih tersimpan di hati, jiwa atau relung batin terdalam masyarakat Aceh, semua itu sudah dapat dipastikan mengalami gegar (shock) yang tidak kecil. Bencana hebat ini bukan hanya sekadar great disaster yang juga pernah dialami bangsa-bangsa lain, tapi juga gegar budaya yang dalam dan mungkin tak dapat diukur (betapa berharga jika berbagai institusi yang kompeten menyiapkan segera banyak penelitian mengenai hal tersebut). Satu kekuatan budaya kini bugil, bahkan tak bertubuh, dan harus menerima serbuan-serbuan asing yang tak terpermanai. Aceh, kau mungkin sudah letih meratap, sehingga tak dapat lagi mengharap bahkan tak butuh lagi diratapi. Banjir laut tsunami itu seperti air matamu sendiri, yang menuntaskan semua ratap dan harap itu. Seperti menjadi pamungkas bahwa "budi" dan "kebaikan hati" global yang terjadi sekarang ini hanyalah penanda mutakhir dari permainan dan persaingan kepentingan-kepentingan politis, ekonomis, dan ideologis. Tak satu pun di antaranya yang menyuarakan dan menyiapkan pembenahan atau pemulihan dunia adab atau infrastruktur budaya Aceh: dua hal yang ratusan tahun justru menjadi kekuatan utama, potensi terbesar, dan identitas terbaik Aceh.

Masyarakat dan sejarah Aceh ke depan mungkin hanya menjadi saksi, bagaimana dunia adab Aceh hanya dapat membisu dan menjadi saksi, ternyata keporak-porandaan adab itu dieksploitasi hanya untuk kepentingan sempit dan temporer kekuatan-kekuatan (ekonomis, politis, ideologis) tertentu. Dalam dan luar negeri. Artinya, masyarakat Aceh harus menjadikan momentum historis ini untuk membentuk atau merancang adab baru, dari puing, kenestapaan, dan alien-alien yang berkeliaran. Adab baru yang berangkat dari kekayaan dan kejayaan masa lalu, namun tidak terkurung dan terbelenggu olehnya. Namun, mengambil spirit dan etosnya untuk menempa jiwa budaya Aceh baru yang lebih tangguh, kreatif, survive, dan berani menghadapi realitas-realitas baru yang memang tak terelakkan.

Aceh harus menjadi Aceh baru, menjadi bagian terkeras dari bangsa nusantara ini; yang membuktikan keberdayaan sebuah adab menghadapi kekerasan hidup zaman ini; yang menjadi salah satu contoh terbaik bagi generasi nanti, di Aceh maupun bagian-bagian lain negeri ini; menjadi sejarah, sejarah terbaik kita. Apa yang dapat dilakukan kita, orang-orang asing yang bergegas dan berduyun menghampiri Aceh, dengan topeng malaikat, santo, arifin, atau kemuliaan? Tidak ada kata lain selain: biarkan Aceh membangun dirinya sendiri, mengembangkan kembali adab dan dunia budayanya sendiri! Sebagai saudara, atau manusia berhati pada umumnya, kita memang tidak akan berdiam diri menyaksikan Aceh tertatih, pincang bahkan lumpuh sebagian, hanya untuk sekadar dapat berdiri tegak. Kita tak akan mendatanginya seperti seorang pahlawan. Kita siapkan saja semua yang dibutuhkan Aceh, tanpa bicara dan meminta, tanpa nasihat dan retorika palsu, sehingga Aceh dapat tegak berdiri, berjalan, bahkan berlari lebih cepat dari kedua kaki kita sendiri. Kita juga yang akan menghalang-halangi pihak mana pun yang bergaya filantrof, psikiater, Dewa Wisnu, Rambo, Robin Hood, atau jago-jago Hollywood. Kita adalah guard terkuat dan hadir begitu hebat saat Aceh memintanya. Kita boleh percaya, sisa-sisa budaya immaterial Aceh masih menyimpan kekuatan dan potensi dahsyat untuk bangkit dan menjadi kekuatan budaya yang avant garde. Bahwa Aceh akan bisa membangun kembali dengan perlahan dan cepat rumah budaya dan bangunan adabnya, sehingga beranda rumahnya siap menerima tamu dengan etika yang terjaga.

Dan beranda itu adalah beranda rumah budaya kita juga, beranda hati kita, beranda peradaban Indonesia. Dari beranda itulah kita juga akan melihat dinding-dindingnya yang berkaca, di mana kita akan melihat cermin dan refleksi diri sendiri. Cermin yang mengoreksi bahkan menelanjangi kita yang selama ini berlagak jadi patriot dan pahlawan. Cermin yang menusukkan rasa malu tak terhingga, jika bencana Aceh ini juga tak mampu mengguncangkan hati dan nurani kita untuk berubah. Tak cuma sampai pada niat, tapi juga pada tabiat dan apa pun yang kita perbuat. Cermin di beranda Aceh adalah momen terbaik bagi bangsa ini secara keseluruhan mengubah budaya immaterial kita, hati, jiwa, mentalitas, sikap, adab kita seluruhnya. Inilah momen yang tidak lagi memberi maaf sedikit pun pada kelalaian, manipulasi sekecil apa pun, retorika kesalahan, kepengecutan moral-politis-ideologis, atau keraguan bersikap benar serendah apa pun. Inilah momen bagi mereka kaum elite, penguasa ekonomi, militer, dan politik untuk berani menghentikan kekerdilan, kepalsuan, trik-trik logika, keserakahan, dan mengembalikan fitrahnya pada posisinya sebagai abdi masyarakat (public servant). Mendedikasi diri, bukan pada keluarga, kelompok apalagi diri sendiri. Tapi pada publik, pada sejarah, pada kekuatan ilahiah yang mereka percaya. Betapa bebal dan dungunya bangsa ini jika momen sebesar ini masih belum cukup juga memberi pelajaran. Betapa pandir dan lembeknya pemerintah, juga kaum elitenya, jika tak mampu menjadikan peristiwa global sebagai titik balik perubahan radikal adab dan perilakunya, menjadi pionir bagi sejarah baru bangsa ini. Kita harus berani, betapa pun tinggi risiko, kontroversi dan resistensi kaum konservatifnya. Mari jadikan Aceh, kekuatan dan masa depannya yang kita bangun bersama, menjadi bagian terdepan peradaban kita. Menjadi serambi hati kita, serambi masa depan Indonesia.


:: P u i s i

Puisi Doddi Achmad Fawdzy

Tsunami

Bismillah,
sesungguhnya aku melihat Berbondongbondong orang
memberi dengan tangan kanan
Sambil merampok dengan tangan kiri
Tibatiba saja banyak orang yang menjadi cerdas mengungkapkan ide
Tetapi gagap mewujudkannya dalam tindakan nyata
Lalu mereka berlomba ingin menjadi pahlawan
Tetapi enggan berlomba berbuat kebaikan

Dalam keadaan darurat
Hendaklah tidak semuanya meninggalkan kampung
Harus ada sekelompok orang yang tetap merawat rumah ibadat
Sambil waspada dan merapatkan barisan
Sesungguhnya kami bukanlah gerombolan
Tetapi tonggak-tonggak jaringan
Wahai saudarasaudaraku yang terkapar

Sesungguhnya aku ingin berada di dekat-mu
Hingga dapat menggapai jemari hati-mu
Membasuh luka-perih-mu
Mendirikan lagi rumahrumah-mu
Menguburkan jenazah yang bergelimpangan
Mengumpulkan kembali anggota keluarga yang tercerai-berai
Aku pasti datang pada-mu, tidak untuk berpuisi
Bukan pula sebagai brahmana

Aku ingin berhimpun bersama-mu
Dan ikut merajut kembali benang-benang yang putus
Sehingga terjalin sebuah jaring untuk bertahan hidup

Jakarta, 2005




Puisi Rieke Dyah Pitaloka

Meulaboh

Meulaboh, Meulaboh…
Kemana dukaku harus berlabuh
Sedang laut tak lagi punya dermaga
Tepinya berakhir di pagi yang runtuh

Meulaboh, Meulaboh…
Kemana tangis harus berlabuh
Sedang perahuku tinggal separuh
Di terjang ombak penuh gemuruh

Meulaboh, Meulaboh…
Sedang tubuh penuh peluh Jiwa lelah nyawa lumpuh

Meulaboh, Meulaboh…
Izinkan do'aku berlabuh
Buat meraka yang tak lagi mengecap subuh


:: K o m u n i t a s

PASAR SENI ANCOL

1978, Hendra Gunawan, pelukis yang merupakan salah satu ikon seni rupa modern Indonesia, terpaku di sebuah kios kosong depan warung Aries, Pasar Seni Ancol (PSA), tempat para seniman Ancol biasa nongkrong dan minum kopi. Ia baru saja keluar dari penjara, ketika pelukis Soedarso bersama anaknya, Sudaryono, mengajaknya datang ke tempat ini. Betapa ia tak dapat mempercayai apa yang telah dilihatnya.
Sebuah perkampungan tempat para seniman dapat berkumpul dan berkarya. Sesuatu yang pada masanya hanya menjadi mimpi di siang bolong. Tanpa bisa ditahan, air matanya menitik, tubuhnya bergetar oleh rasa haru yang datang tak alang kepalang. Didirikan pada 28 Pebruari 1978, dengan meniru konsep Art Fair ITB, yang selanjutnya pada tahun 1977 dibangun secara permanen di area seluas 5 hektar, tempat ia kini berada dengan fasilitas 114 studio, sebuah teater arena, dan galeri, PSA selama satu dekade telah menjadi pusat kegiatan seni budaya di Indonesia.
Berbagai karya dan nama besar lahir di PSA, sebut saja Anggun C. Sasmi, Bagito Group, G.M. Sudarta, Indro Sungkowo, I.B. Said, Amrus, dan sebagainya-dan sebagainya. Kepopuleran PSA membuat para pejabat, selebritis, tamu negara, pengamat, kritikus, dan seniman-seniman besar dari berbagai negara tergoda untuk berkunjung ke sana. Eksistensi PSA pada saat itu membuat Ali Sadikin sempat merasa khawatir. Dalam biografi beliau yang ditulis oleh Ramadhan K.H., Bang Ali berpesan kepada Ciputra, agar PSA jangan menjadi saingan Taman Ismail Marzuki (TIM), masing-masing harus mempunyai misinya yang berlainan. Berbicara tentang hancurnya sekat-sekat tradisional antara seni dan bukan seni, seni dan craft, serta seni dan pasar, yang merupakan isu-isu seni rupa hari ini, nama pertama yang harus disebut adalah PSA. PSA-lah yang mula pertama secara terang-terangan memproklamirkan seni yang berorientasi pasar ketika kebanyakan seniman Indonesia memperlakukan seni sebagai barang yang suci, yang harus dijauhkan dari komodifikasi.
Di sinilah tempat barang-barang seni seperti lukisan, patung, grafis, disajikan bersama-sama dengan benda-benda kerajinan seperti keramik, tas, kalung, dan sebagainya. Tapi tentu bukan berarti bahwa dengan memilih untuk berorientasi pada pasar, PSA telah kehilangan aspek-aspek humanismenya. Merespon gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Sumut, PSA menjadi salah satu komponen Koordinatoriat BANGKIT ACEH yang mengadakan berbagai rangkaian kegiatan kesenian untuk menggalang doa dan dana dari para seniman. Lebih dari enam puluh seniman PSA menyumbangkan lukisan dan patung karya mereka untuk dipamerkan dalam Perniagaan Amal bagi Aceh, yang merupakan salah satu acara dalam Dwi Pekan Kepekaan Seniman: Bangkit Aceh di Galeri Nasional Indonesia dari tanggal 823 Januari 2005, putaran kedua dari kegiatan penggalangan doa dan dana ini, setelah Zikir 00.00 pada malam pergantian tahun di Kafe Semanggi. PSA juga akan menjadi tuan rumah putaran ketiga yang menggelar pameran lukisan dan fotografi mengenai bencana tsunami. (NA)

Sanggar Matahari

Sanggar Matahari dipimpin oleh H.Fredie Arsi dan didirikan di Otista Jakarta Timur, pada bulan Oktober 1980 serta membina teater di 5 wilayah kota Jakarta. Pada tahun 1990 bersama ke enam anak kandungnya membentuk kelompok musikalisasi puisi yang di beri nama Deavies Sanggar Matahari, sampai dengan saat ini Deavies Sanggar Matahari sudah meluncurkan 2 album musikalisasi puisi, “ Tuhan kita begitu dekat “ (1996), “ Nyanyian rindu “ (2003), dan 1 album kompilasi “ Puisi untuk Aceh “ (1999) . Memasyarakatkan musikalisasi puisi sebagai apresiasi sastra di 16 propinsi di Indonesia. Sejak tahun 1994, Deavies Sanggar Matahari menjadi mitra kerja Pusat Bahasa Depdiknas dalam program Bengkel Sastra keterkaitan khususnya dengan Aceh. Pada tahun 1996 mengawali rangkaian tour Sumatera di Taman Budaya Aceh, berinteraksi kreatif dengan siswa/i SMP/SMA Banda Aceh dan seniman Aceh dalam diskusi serta pementasan musikalisasi puisi. Tahun 1999, dengan dasar kemanusiaan menggagas terbentuknya KASUHA (Kampanye Seni Untuk Hak Asasi Manusia ) atas konflik berkepanjangan yang memakan ribuan korban DOM, bersama Fikar W Eda melakukan tour kampanye “ Salam Damai “ di Jakarta, Solo, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Banda Aceh, dan Sabang.
Dan pada Agustus 2004 kembali melakukan pelatihan Bengkel Sastra bagi 25 siswa dan guru SMA/Sederajat di Banda Aceh. Maka, Deavies Sanggar Matahari bergabung bersama koordinatoriat Bangkit Aceh dengan harapan membangun kembali peradaban kebudayaan di Aceh.

Konsorsium Wartawan Kebudayaan (KWK)

Konsorsium Wartawan Kebudayaan (KWK) Nusantara lahir dari perbuatan dan ketidaksengajaan. Sejumlah wartawan kebudayaan yang sering bertemu dalam melakukan, merasa ada suatu kebutuhan untuk membuat sebuah forum yang menjadi sarana untuk meningkatkan daya apresiasi sekeligus bisa berekspresi. Sejujurnya, kebetulan banyak wartawan kebduayaan yang sebenarnya juga tercatat sebagai seniman. Maka pada 29 Juni 2003, para wartawan menggelar pergelaran puisi di Plaza Senayan, Jakarta Selatan. Persiapan dan latihan untuk pertunjukan itu sekitar satu bulan. Sehabis itu, ada kesadaran untuk menata forum, dan terbentuklah KWK pada 16 Juli 2003 dengan Ketua Umum Putu Fajar Arcana (wartawan Kompas), dan Sekjend Doddi AF (Wartawan Media Indonesia).
Hingga sekarang, pengurus yang lainnya belum terbentuk karena memang belum dibutuhkan. Selanjutnya, kegiatan KWK seperti ikut terlibat dalam Koordinatoriat Bangkit Aceh, selalu dimulai dari konsep sederhana namun diwujudkan dalam kerja nyata. KWK akhirnya bukan sekadar kerumunan wartawan….
SAJAK

Siapakah SAJAK?
SAJAK merupakan akronim dari Perhimpunan Seniman Aceh Se-Jabotabek. Tetapi, secara filosofis adalah “Peusajak” ( Peu, Sa & Jak ) yang berarti: melangkah bersama untuk kemakmuran Kesenian dan Kebudayaan Aceh.

Kapan SAJAK Berdiri?
7 Juli 2002, dari hasil Pertemuan dan Lokakarya Seniman Aceh se-Jabotabek, 5, 6, 7 Juli 2002, di hotel Rudian Puncak, Cisarua Bogor. Hadir saat itu, lebih 50 seniman Aceh. Pertemuan juga berhasil membentuk struktur organisasi yang terdiri dari Dewan Presidium dan Dewan Pengurus/Eksekutif. SAJAK telah memperkenalkan lembaganya kepada publik di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki tgl. 22-23 September 2002 melalui pertunjukan The Art Of Rampoe Aceh oleh kelompok Hom-hai Project. Saat itu, dibacakan deklarasi sajak berjudul: Seruan dari Rantau. Deklarasi ini kemudian menjadi landasan filosofi sajak.

Apa Misi SAJAK?
- Mengembangkan kesenian Aceh multikultur, baik kategori tradisi, populer, maupun kontemporer.
- Membangun sistem berkesenian yang komprehensif, profesional, dan berkelanjutan.
- Mengembangkan pemikiran mengenai seni dan budaya Aceh yang multikultur.

Alamat
Kafe Taman Semanggi (KTS), Kawasan Niaga Terpadu Sudirman ( SCBD ) Lot. 8 Jln. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190 Telp.: 021-70600302, fax. 021-5155439, Hp: 0818944726, email:
peusajak@hotmail.com



________________________
arslonga lahir dari gerak yang ringkas dan spontan. Sebagaimana Ia dengan begitu spontan mengirimkan tsunami di pagi yang cerah, di ujung Barat Nusantara: Yang membuat kami kian yakin bahwa manusia memiliki kebebasan sebebas-bebasnya. Tidak ada yang bisa membatasi kebebasan manusia kecuali sejumlah keterbatasan yang dititipkan Tuhan. Sejumlah kebebasan individual ini berbenturan, sehingga lahirlah sebuah peradaban dan kebudayaan sebagai regulator kepentingan. Tetapi peradaban dan kebudayaan bangsa kita yang masih bau kencur belum dapat menjadi regulator yang adil menurut hukum alam maupun hukum akal sehat. Jangan-jangan akal kita memang tidak sehat. Ars Longa terbit untuk memeriksa kembali akal kita sebagai makhluk budaya yang beradab. Dari majalah yang edisi perdananya terbit stensilan inilah moga revolusi kebudayaan dan peradaban terus bergulir.
AGDDAGAHDGj
arslonga
Penerbit: Bangkit Nusantara
Pemimpin Umum: Syeh Jibril
Pemimpin Redaksi: Nuruddin Asyhadie
Redaksi: Tarsih Ekaputra, Hari, Nung, Fauzan Santa, Deasy Anggraeny
Design/Lay Out: Morenk Tungbela
Perusahaan: Dwipanusantara
Redaksi/iklan: Jl. Medan Merdeka Timur No.14 Jakarta Pusat
Tel/Fax: 021-384 8791 E-mail: arslongamag@yahoo.com, iklanarslonga@yahoo.com

©arslonga2005

Comments:
I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. My blog is just about my day to day life, as a park ranger. So please Click Here To Read My Blog
 
I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. So please Click Here To Read My Blog

http://pennystockinvestment.blogspot.com
 
Get any Desired College Degree, In less then 2 weeks.

Call this number now 24 hours a day 7 days a week (413) 208-3069

Get these Degrees NOW!!!

"BA", "BSc", "MA", "MSc", "MBA", "PHD",

Get everything within 2 weeks.
100% verifiable, this is a real deal

Act now you owe it to your future.

(413) 208-3069 call now 24 hours a day, 7 days a week.
 
Post a Comment

<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?